PERAYAAN ISRA' MI'RAJ MADRASAH ALIYAH (45) GIANYAR TAHUN 1446 H

Kecerahan pagi mewarnai kehidupan
ku suara burung mendayu seperti alunan musik, sepasang burung melayang meniti angin
berputar-putar tinggi dilangit tanpa sekali pun mengepak sayap mereka mengapung
berjam-jam, suaranya melengking nyaring seperti merindukan sesuatu.
Angin diseberang sungai bertiup dengan
lembut menyapa pepohonan, daun yang penuh gaerah menyambut penuh dengan riang,
suara gemerincing pohon bambu membuat lamunan ku semakin panjang.
Udara sejuk menyapa tubuhku,
penuh dengan kesegaran yang menerpa tubuh. Pagi telah berlalu rutinitas kini
menemani langkah untuk menjalani kewajiban sebagai suami. Aku adalah seorang
pengajar disalah-satu madrasah yaitu madrasah Aliyah 45 Gianyar, dilembaga ini
aku dibesarkan dan didik berbagai ilmu pengetahuan sebelum menjadi guru aku
bersekolah di SDN 11 Gelumpang-Karangasem setelah tamat pendidikan SD karena
keterbatasan biaya dan kondisi orang tua carut marut aku dibawa kepanti asuhan
untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi yaitu SMP/MTs.
Kehidupan orang tua saat itu
dibilang sangat memperihatinkan, pekerjaan serabutan terkadang bekerja menjadi
buruh tani yang diberi upah padi, dan sebagai buruh bangunan. Yang paling
berperan dalam kehidupan ku adalah Ibu dia telah berusah bagaimana caranya
untuk memenuhi pendidikan dan kehidupan anak-anaknya dimasa yang akan datang.
Gubuk kecil yang telah menemani
hidup, dalam gubuk itu hanya mempunyai satu bilik tempat tidur dan didalam
gubuk itu dihuni oleh lima orang. Kegembiraan, bercanda gurau selalu mengiringi
jalan kehidupanku. Ibu disetiap paginya selalu menyediakan makan nasi dan sayur
saja, terkadang aku diajarkan memasak nasi atau membuat sayur. Makanan yang
paling nikmat dan bergizi yang dinikmati setahun sekali adalah ikan pindang yang
hanya digoreng.
Setiap berangkat sekolah aku
hanya terkadang dikasih bekal terkadang tidak, kalau dikasih bekal ia jumlahnya
hanya Rp.25 berangkat hanya berjalan kaki menyelusuri jalan setapak dibalik
semak-semak terkadang terhalang adanya anjing yang begitu galak didalam
perjalanan menuju sekolah.
Walau kehidupan serba kekurangan
tetapi didalam rumah ku ada surga mengiringi, keceriaan, kegembiraan, ketawa
dan senyuman seorang ibu membuat ketenangan isi gubuk. Matahari telah
menghilangkan cahanya dan telah dinanti oleh kalong dan kelelawar mereka telah
keluar dari sarang, dilubang-lubang kayu, ketiak daun kelapa atau kuncup daun
pisang yang masih menggulung.
Pelita-pelita kecil telah dinyalakan,
suara azan dimasjid telah terdengar dan kelap-kelip dikejahuan membuktikan di
desaku yang sunyi ada kehidupan, bulan yang bulat hampir mencapai puncak
langit. Cahayanya membuat bayangan di atas gubuk memberikan sinarnya penuh
kelembutan. Kehadirannya diangkasa tidak terhalang oleh awan, langit bening
semakin malam semakin dingin.
Cahaya bulan yang penuh dengan
keramahan bagi anak-anak, halaman yang sangat luas dan menyenangkan untuk
bermain. Cahaya bulan menciptakan keakraban antara manusia dengan lingkup
fitrahnya. Anak-anak yang masih kecil dan lugu layak hadir bermain dan
bergembira sambil dibalut oleh cahaya bulan pesonamu menghilangkan kepenatan.
Dibalik cahaya bulan seorang ibu
termenung menanti suaminya datang, terdiam dan membisu, sesungguhnya gendang
telinganya menangkap suara canda yang lucu menawan dari anaknya. Ibu tidak
kuasa menelan ludah sementara itu anaknya tertidur manja diatas tikar, ingin
memandangnya tetapi penglihatanya telah buram. Ibu melihat anak yang lucu
tampak ketakutan apakah saya bisa mengemban amanah ini seorang diri, gumamnya. Malam
membisu mendengar keluh kesahnya.
Menjelang pajar tiba kudengar
burung prit bercecet dibelakang rumah. Keletak-keletik bunyi tetes embun yang
jatuh menimpa daun kering. Kudegar dengung kumbang tahi yang terbang menuju
arah asal bau tinja yang berserakan di halaman gubuk dan keributan kecil
dikandang ayam.
Perlahan-lahan aku bangun dari
tidur, aku tidak mengiginkan terdengar derit bamboo yang mengusik gendang
telinga. Didalam bilik aku lihat ibu tidur miring agak melingkar dengan cahaya
pelita cekil aku melihat raut wajah yang penuh lelah dan begitu lelap dalam
tidurnya.
Selesai mengunakan pakaian, ibu
ku hari ini masih tidur lelap tetapi aku hanya melihatnya sejenak untuk
menenagkan jiwaku. Langit ditimur mulai terang ketika aku melangkah keluar,-“bersambung”
Komentar
Posting Komentar